Griss' Corner

A personal corner made by an avid reader, coffee drinker, and beauty admirer

Bye Game of Thrones, Hello Outlander!

Posted in Books • 14 September 2014

Outlander - grisscorner

JUST KIDDING.

Nggak mungkin gue meninggalkan Cersei Lannister.  I have to keep reminding her how crazy she is.  *sending love to Cersei*  Tapi, sambil menunggu season 5 Game of Thrones, ada TV Series lain yang nggak kalah bagusnya, Outlander.  Serupa namun tak sama, Outlander juga diadaptasi dari buku. Tapi kalau bandingin ceritanya ya beda tipe lah sama Game of Thrones. Jadi saat baca dan nonton TV series-nya harus ubah mindset. Kalo ngarep kayak GoT ya nggak bakal kesampaian. But you can expect great historical fiction elements, romance and thought provoking issues to discuss from this book and TV series.

Anyway, udah ada 8 buku di serial Outlander ini yang terbit, panjang banget ya ini gilak. Buku ke-9 pun lagi dalam proses penulisan kalau lihat di akun twitter penulisnya, Diana Gabaldon.

Pertama kali tahu, dan sukses terbujuk untuk coba baca Outlander itu karena gue nonton video Tasha yang ini. Silahkan tonton, dan siapkan uang untuk beli bukunya. Gue memang ingin memperluas genre bacaan, dan Historical Fiction jadi genre yang diincar.  Cukup banyak loh ternyata buku-buku yang menarik setelah gentayangan di goodreads.  Historical Fiction pertama yang gue baca The Diviners yang setting-nya tahun 1920-an dan setelahnya jadi penasaran dengan buku lain di genre yang sama.

Outlander ini agak unik, karena ada ada unsur time travel di ceritanya. Awal cerita mengambil setting waktu 1945 di mana Claire, tokoh utama di cerita ini adalah mantan perawat yang mengurus korban-korban perang selama 4 tahun.  Setelah perang selesai, dia dan suaminya, Frank, pergi ke Skotlandia untuk second honeymoon. Frank yang memang ahli sejarah ini memang super penasaran dengan silsilah keluarganya.  Sampai di acara “liburan” pun, Frank banyak menghabiskan waktu untuk melihat dokumen bersejarah, juga mengunjungi beberapa tempat yang diyakini pernah jadi tempat yang diinjak oleh leluhurnya, terutama leluhurnya yang pernah memerangin pasukan dari Skotlandia (Claire and Frank are British, by the way).

Saat Claire pergi sendirian ke tempat yang ada batu-batu keramat, dia kelempar ke masa lalu, tepatnya tahun 1743.  Nah, mulai nih, diceritain tentang panasnya British vs Scotland.  Di tahun itu juga ada yang disebut Jacobites, kumpulan pemberontak yang mendukung Charles Edward Stuart untuk mengembalikan tahtanya di Britania Raya.  Jadi jelas ada unsur politik juga di buku ini.

Di awal cerita memang alurnya terasa agak lambat, biasanya ya buku pertama dari satu serial memang begitu.  Tapi bagi gue pribadi, saat Claire udah ketarik di tahun 1743, ceritanya makin seru.  Claire ditemukan oleh pasukan Skotlandia yang langsung membawa dia sebagai “tahanan”.  Dia dibawa ke castle salah satu clan yang ada di sana, dan walaupun Claire disebut sebagai tamu tapi ruang geraknya dibatasi dan diawasi karena ketua clan-nya agak curiga dengan Claire.  Siapa lah dia cewek Inggris tiba-tiba nyasar di tanah Skotlandia :p Di tempat baru itu, Claire sering dipanggil dengan Sassenach, kata Gaelic yang dipakai orang Skotlandia untuk menyebut orang Inggris. She definitely feels like an outlander there.

NAH INI… Saat Claire dibawa oleh salah satu anggota clan, ketemu lah dia sama Jamie, salah satu Scotland soldier yang gue yakin seyakin-yakinnya banyak bikin perempuan meleleh.

Claire and Jamie

Banyak pro kontra sih di buku ini.  Di goodreads aja, ada beberapa orang, terutama perempuan yang merasa tersinggung karena Outlander mengangkat beberapa topik yang membahas tentang perlakuan yang diterima perempuan di era itu.  Ada beberapa yang mempertanyakan dan jelas-jelas menyuarakan ketidaksukaannya atas tingkah laku dan keputusan yang dijalankan karakter-karakter yang ada di buku ini.

Wajar banyak yang protes, wong bebas, tiap orang berpendapat ya boleh-boleh aja. Tapi kalau gue komentar balik:  Cerita fiksi ini, woy, nggak usah sampe tersungging begitu dong ah.   Nggak usah jauh-jauh ke tahun 1700-an, deh.  Awal 1900-an juga perempuan masih jadi warga kelas dua banget, kan.  Yang penting, kan, sekarang nggak begitu.

Gue pribadi selalu menganggap membaca itu hiburan dan khusus untuk historical fiction dan mitologi, gue bisa menambah pengetahuan sedikit demi sedikit tentang apa yang terjadi di belahan bumi lainnya.  Karena walaupun fiksi, ada fakta dan informasi di balik cerita itu.  Dan gue rasa cukup masuk akal kok atas apa yang dilakukan Claire dan Jamie di cerita ini.  Kalau gue diposisikan di kondisi seperti itu, mungkin ya keputusan yang gue ambil nggak akan beda jauh.  Jadi lucu aja kalau ada yang sampai sewot sendiri cuma karena buku fiksi.  Chill out, Lassie.

Selain mengangkat diskusi tentang perempuan, di buku ini juga ada beberapa adegan yang menurut gue brutal.  Brutalnya itu bukan tipikal brutal tahanan yang disiksa sampai meninggal ala perang begitu.  Ini ada kebrutalan lain lagi yang nggak bisa gue bilang karena malah jadi spoiler nantinya.  Beberapa bab menjelang akhir cerita itu paling edan sih. Sampai meringis beneran gue bacanya.  Ada karakter yang beneran sinting di buku ini.  Butuh banget untuk segera ditembak. Gue doain cepet mati, deh.  Gue belum baca buku lanjutannya jadi gue nggak tahu karakter itu bakal lenyap kapan.

Oh iya, nggak hanya belajar sejarah, ada beberapa scene di mana Scotland solider ini ngomong dengan Scottish Gaelic. I automatically learned a few new words, new for me at least. Yang super gampang aja tentunya. Ini lucu dan menarik deh beneran. Pertama baca, gue yang sangat awam dan buta dengan kata-kata yang biasa dipakai di sana otomatis agak bengong ya.  Namun setelah beberapa kalimat, jadi ngerti sendiri juga.  “Aye, you can get a wee drop of water, but that’s all.”, “I ken what you mean, Lass.”, “Ye shut up. Go to your room!” Buat sedikit contekan aja:

ken = know
aye = yes, yeah, yup, etc.
wee = little
lass, lassie = girl

Gue kasih 5 stars out of 5 untuk bukunya.  Kagum banget sama Diana Gabaldon yang bisa bikin buku setebal ini dengan satu point of view (POV).  Nggak gampang sama sekali loh.  Ada keterbatasan karena segala sesuatunya harus dari sudut pandang tokoh yang dipakai.  Gimana gue nggak ternganga dong ya, ini udah pake 1 POV, tapi tetap bisa meng-cover berbagai macam aspek dari unsur sejarah sampai bikin plot cerita yang menarik itu luar biasa banget sih bagi gue.  KEREN.

TV Series-nya baru mulai tanggal 9 Agustus 2014 dan disiarin di Starz.  Per tanggal post ini dibuat, baru ada episode 6.  So far so good, mirip dengan bukunya, bahkan ada beberapa dialog yang sama seperti dialog yang ada di buku.  Dannnn… Sam Heughan yang memerankan Jamie itu eye candy banget saudara-saudari. Dia asli orang Skotlandia pula, pas banget lah.  Yang mau baca, atau yang udah baca atau nonton TV Series-nya, mari ngobrol di sini! :)

OUT-Elevated_20131004_NB-0645.jpg