Griss' Corner

A personal corner made by an avid reader, coffee drinker, and beauty admirer

Saat Rambut yang Mulai Panjang Bikin Risih…

Posted in Beauty • 1 April 2015

before haircut - grisscorner

Ya dipotong lah rambutnya. Gitu aja repot.

*dijitak warga*

Perkara ganti potongan rambut itu emang gampang-gampang susah, sih, ya.  Khususnya buat gue.  Dilema gue agak panjang kalau belum kekumpul rasa gemes akan rambut sendiri. Di satu sisi, gue punya cita-cita mau manjangin rambut sampai sepanjang rambut Sadako. Penasaran, apakah dengan rambut yang panjang bisa jadi senjata buat mecut muka orang yang nyebelin? Tapi di sisi lain, rambut yang mulai panjang ini lama banget ngeringinnya.  Belum lagi kalau pas digerai, gue suka ribet sendiri.

Terakhir kali potong rambut pendek – terpendek yang pernah gue coba – di Agustus 2013. Lalu dari situ sampai sekarang, sempat diselingi dua kali potong rambut.  Yang pertama gue lupa, tapi yang kedua itu awal Desember 2014.  Keduanya bukan potong yang drastis, sih.  Sekadar ngerapiin rambut dan kasih tekstur aja biar nggak terlalu flat. Panjangnya sih tetap panjang, tebalnya kurang dikit aja. Banyak yang bilang nggak kelihatan bedanya. Oke lah, wajar, emang saat itu gue cuma mau ngerapiin doang dan yang terakhir justru lebih fokus untuk ganti warna rambut.

Lalu apa yang mendasari keputusan gue potong rambut di tahun 2015 ini?

Kembali lagi ke judul blog post :D

Sekali lagi, ngeringin rambut tebal yang mulai panjang itu semakin lama dan semakin jadi PR rasanya. Buat gue yang keramas hampir setiap pagi, berasa banget makan waktunya. Harus bangun lebih pagi supaya bisa berangkat dengan rambut minimal setengah kering.  Selebihnya gue keringin pakai angin AC mobil.  Mau nggak mau harus gitu karena rasanya kurang rapi aja kalau sampai kantor dengan rambut seperti habis mentas dari shower.  Tapi keringnya beda deh sama rambut yang dikeringin dengan lebih layak. Lain cerita kalau udah punya hairdryer yang bagus, mungkin kalau gitu gue tahan-tahan manjangin rambut.

Kalau dari pendapat orang-orang sekitar, banyak yang lebih suka gue punya rambut panjang. Tapi yang pro rambut pendek pun ada.  Gue butuh masukan tentang style rambut, tapi ya nggak suka sampai diatur-atur juga, sih. “Griss. rambut lo diginiin aja.”, “Griss, jangan digituin, jangan diginiin.” Kalem aja, karena pada akhirnya rambut mau diapain juga suka-suka gue kan ya.

Akhirnya, Minggu kemarin gue memutuskan untuk potong rambut di APT Hair Salon, Central Park. Tadinya mau long bob, tapi begitu udah sampai salon, udah deh sekalian aja sampai di atas pundak. Toya, hairstylist di balik rambut baru ini pun mengaminkan walau mau dibikin pendek rambut gue bakal tetep bagus.  Toya udah bilang begitu ya udah, makin mantap gue.

Gue suka dengan proses pengerjaannya karena waktu rambut basah digunting dulu. Langsung itu segenggam rambut hilang.  Habis itu rambut di-blow sampai kelihatan panjang pendeknya, dan dari situ Toya mulai deh ngebentuk rambut gue.  Rambut yang “disajikan” memang dari hasil penyajian yang terbaik (kering, dan habis di-blow). Kalau rambut hanya dipotong dalam kondisi basah, begitu dikeringin kan bentuknya bisa aja tiba-tiba ada yang agak ajaib dan kurang rapi.  Puas banget deh gue sama hasil guntingan Toya.  Kalau penasaran mau lihat hasil akhir kanan kiri belakang penampakan rambut gue, main ke akun Instagram Toya di sini.

after haircut - grisscorner

Orang-orang di sekitar ada yang “protes” karena gue potong rambut. Pertanyaan, “nggak sayang, Griss?” pun mulai berdatangan.  Tapi ternyata yang lebih suka dengan rambut baru gue ini lebih banyak jumlahnya.   Gue pribadi suka dengan hasil potongan ini, jadi mau denger protes warga kaya gimana juga bakal tetep lempeng.  Yang pasti, dengan rambut pendek gue jadi lebih cepet ngeringin rambut, bisa tidur sedikit lebih lama, kepala ini terasa lebih ringan, dan sapaan “Pagi, Non” dari bapak security apartemen pun jadi lebih sering.  Itu yang terakhir beneran super penting! #Imfeeling22