Griss' Corner

A personal corner made by an avid reader, coffee drinker, and beauty admirer

The Dubai Mall & Iced Latte Marathon

Posted in Coffee, Playground • 8 May 2014

Dubai Mall 7

Dubai Mall 1

Dubai Mall 3

Dubai Mall 5

Dubai Fountain - grisscorner

Local guide yang memandu rombongan bilang kalau Dubai punya tendensi untuk jadi nomor satu, pengen jadi yang “ter-” itu sudah biasa. Contoh: terbesar, termewah, termahal, dsb.  Dia bilang Abu Dhabi punya sumber penghasilan yang lebih besar daripada Dubai, that’s why Abu Dhabi lebih santai, nggak kepingin bangun ini itu dengan cepat seperti Dubai karena minyak buminya bisa dipakai untuk menghidupi Abu Dhabi sampai 150 tahun ke depan, sedangkan Dubai jaminan dari minyak buminya hanya sampai 8 tahun ke depan sehingga nggak heran kalau pariwisatanya dikencengin yang berarti juga banyaknya obyek wisata yang dibangun untuk menarik turis datang ke sana.

Salah satu yang pasti menarik turis adalah The Dubai Mall, yang merupakan mall terbesar di United Arab Emirates, juga di Middle East.  Namun karena katanya masih kalah besar sama Mall of America, katanya sih mau bikin Mall of the World.  Let’s wait and see.  Ada lebih dari 1200 toko yang tersebar di 4 lantai di mall ini, nggak hanya itu, akses untuk ke Burj Khalifa (bangunan tertinggi di dunia) juga tersedia dari mall ini.  Ada Dubai Aquarium & Underwater Zoo, Indoor Souk yang semacam replika pasar tradisional, Waterfall, Dubai Fountain (lihat videonya di sini), dan ada juga Dubai Ice Rink.

Lebar dan luasnya itu sih nggak santai, sampai harus bawa peta supaya nggak buang-buang waktu.  Gue sangat menyarankan untuk tahu dulu toko mana yang mau dituju, cari lokasinya di peta, dan mulai gerak cepat ke toko yang dituju.  Kalau kebanyakan mondar-mandir nggak jelas, waktu kebuang percuma.  Apalagi gue ke sana bareng tour, jadi serba dijadwal dan nggak bisa seharian jadi bolang.  Jadi yang gue lakukan adalah memisahkan diri dari rombongan (lama, bok, kalau ngikut si A, nemenin si B, dsb.), mulai tandain di peta toko mana yang mau dituju, beli titipan makeup, cari oleh-oleh, dan mulai berburu Iced Latte.  Bodohnya, gue nggak kepikiran sama sekali buat cari toko buku, padahal setelah mencermati lagi petanya ternyata ada 5 toko buku di sana.  Penyesalan selalu datang belakangan memang.

Iced Latte Marathon

Seperti biasa, pilihan paling membosankan tapi tetap disuka adalah Starbucks.  Nyobain Iced Latte versi biji kopi lokal asli Arab ceritanya.  Yang gue perhatiin, di Starbucks sana nggak ada classic syrup. Walaupun gue juga nggak suka minuman manis, biasanya gue suka kasih sedikit gula atau classic syrup ke latte supaya ada sedikiiiiit manisnya. Tapi di sana nggak ada, yawis.  Memang lebih baik nggak mengonsumsi yang manis-manis juga, kan, jadi gue nrimo aja.

Habis dari Starbucks, ronde kedua nyobain Caribou Coffee.  Rasanya lebih enak daripada latte Starbucks, lebih strong, tapi nggak kebangetan.  Sama aja, nggak ada syrup/gula, adanya madu. Lalu setelah dari Caribou, dengan buru-buru gue cari coffee shop terakhir sebelum balik ke meeting point, dan akhinya jadi milih Costa Coffee.  Iced latte Costa Coffe paling strong sampai agak susah ngehabisinnya. Mungkin karena kondisi gue saat itu juga udah kebanyakan minum Iced Latte, udah begah.  Dari tiga iced latte ini, yang paling gue suka Iced Latte Caribou Coffee.  Nggak ada niat mau buka di Indonesia kah?  Coba buka di Jakarta, sekarang ada coffee shop apa juga pasti laris :p

Malamnya sukses susah tidur, over dosis.