Griss' Corner

A personal corner made by an avid reader, coffee drinker, and beauty admirer

Pilih Hardcover, Paperback, Mass-Market Paperback, Atau ebook?

Posted in Books • 29 July 2014

Books - grisscorner

Rak buku emang akan jauh lebih terlihat rapi dan enak dilihat kalau buku-bukunya lebih seragam.  Gue akui itu.  Gue juga agak gemes sebenernya kalau beli buku dari serial yang sama, tapi ukuran salah satu bukunya ada beda.  Tingginya jadi gojlak-gajluk nggak rata gitu, lho. Tapi ya kejadian juga gue mengoleksi beberapa trilogi atau serial dengan ukuran bukunya ada yang beda.  Seperti koleksi trilogi Legend dan Divergent yang ini, lalu ada juga serial The Mortal Instruments yang acak-adut banget ukurannya. Gue pun sampe agak miris lihat rak buku sendiri hahahaha.  Ada artikel menarik di The Guardian yang membahas ukuran buku paperback dari segi penulis, penerbit, dan agen penulis itu,  juga bagaimana dulu hardcover dianggap hanya untuk kelas elit aja.  Tapi karena gue belum menjadi penulis buku *uhuk*, dan juga nggak kerja di penerbit buku, gue mau nulis post ini dari sudut pandang gue sebagai pembaca, penikmat buku, dan sebagai orang yang mengoleksi buku. Buku yang dimaksud pun buku fiksi impor ya, karena buku fiksi Indonesia setau gue cuma ada paperback.

Book Hardcover - grisscorner

Dari segi kualitas produksi, buku hardcover atau hardback yang paling bagus, makanya harganya juga paling mahal. Harga satu buku hardcover bisa untuk beli dua buku paperback. Kertas yang dipakai untuk buku hardcover bagus, lebih tahan lama kalau dibandingkan dengan kertas yang dipakai paperback biasa.  Umumnya hardcover diproduksi dengan dust jacket, atau simpelnya gue sebut sampul aja lah.  Sekarang, yang gue perhatiin makin tren nih, selain ada desain di dust jacket seperti cover pada umumnya, cardboard cover-nya juga diberi desain yang menarik.  Kalau dulu, biasanya cuma spine buku aja yang jadi fokus di balik dust jacket.  Sekarang  jadi lebih seru kaena seperti main undian berhadiah, cover di dalamnya ada desain juga atau nggak.  Selain itu, kelebihan baca buku hardcover adalah nggak perlu takut spine rusak.  Buku bisa dibuka lebar-lebar karena binding-nya kuat.

Book hardcover2 - grisscorner

Gue biasanya beli hardcover kalau ada diskon, atau kalau buku yang dimau baru ada hardcover-nya aja.  Seperti yang sudah gue sebut di atas, harga hardcover kurang lebih sekitar Rp 230.000, bisa untuk beli dua paperback yang harga satuannya sekitar Rp 125.000.  Gue pastinya lebih milih beli dua buku daripada cuma satu dengan budget segitu.  Tapi untuk beberapa buku tertentu, ada yang pertama kali rilis hanya tersedia dalam format hardcover, tok.  Paperback-nya bisa nunggu sampai 6 bulan. Bahkan bisa lebih lama lagi dari itu. Kesabaran gue tentunya nggak sepanjang jalan kenangan, jadi kalau situasinya seperti itu ya gue terpaksa beli hardcover-nya sambil elus-elus dompet.

Paperback sendiri ada beberapa macam, yang bagus biasa disebut trade paperback. Nah ini edisi buku yang paling gue suka karena kualitas kertas, ukuran buku, dan format halamannya biasanya sama seperti hardcover-nya.  Yang membedakan ya hanya cover-nya aja yang floppy.  Harganya lebih mahal sedikit dari paperback biasa.  Contoh buku trade paperback yang gue punya ini Divergent trilogy, lalu ada juga beberapa contoh lain seperti City of Heavenly Fire, Steelheart, dan sebagian besar buku yang gue beli di bulan lalu. Oh iya, paperback sendiri pun edisinya macam-macam, dan gue sudah berlapang dada kalau kedapatan beli di toko buku lalu begitu disandingkan dengan buku sebelumnya tingginya beda.  *elus-elus dada* *dada Theo James*

Book Trade Paperback - grisscorner

Paperback biasa harganya lebih murah lagi dari trade paperback, karena kualitas kertasnya nggak sebagus kertas yang dipakai buku hardcover dan trade paperback. Tapi ya nggak sejelek kertas yang biasa dipakai saat ulangan jaman kita SD dan SMP dulu itu, lho.  Atau yang biasa dipakai buat kertas oret-oretan pas ulangan Matematika yang warnanya burem. Maaf, buat yang angkatannya agak beda jauh, bisa jadi apa yang gue omongin ini kurang bisa dimengerti =)) Contoh paperback yang kualitas kertas nggak sebagus saudara-saudaranya yang lebih mahal itu bisa dilihat di Pathfinder yang gue punya ini.  Kalau dibandingkan dengan trade paperback, kualitas kertasnya lebih tipis, jadi kalau bacanya kasar, kemungkinan untuk kertas lecek dan sobek itu lebih besar.

Book paperback - grisscorner

Lalu di bawah paperback ada yang disebut mass-market paperback.  Harganya lebih murah lagi, biasanya di bawah atau sekitar Rp 100.000. Ukurannya mungil, biasa disebut sebagai airport novel karena katanya biasa dijual di airport newsstand.  Nggak perlu ke airport juga sih, di sini, toko buku seperti Periplus, Books & Beyond, dan Kinokuniya juga banyak yang jual mass-market paperback.  Ukurannya memang bersahabat banget untuk dibawa sebagai buku liburan.  Nggak berat dan nggak makan banyak tempat di tas. Namun untuk kenyamanan membaca tulisan, gue rasa kita jadi mau nggak mau ya harus kompromi karena font-nya lebih kecil dan spasinya juga lebih dempet.  Gue punya beberapa buku dengan ukuran mass-market paperback karena biasanya saat ke toko buku hanya ada ini pilihannya.  Maklum, di Indonesia, toko buku impor nggak se-wahahah seperti toko buku yang ada di negeri tetangga. Gue kurang sabar kalau harus order online dan tunggu tiga minggu sampai satu bulan untuk baca buku yang sebenernya udah ada di depan mata.  Walaupun ukurannya kecil, kalau ready stock, biasanya gue beli juga sih kalau emang udah kepingin banget.

Book mass-market paperback - grisscorner

Opsi terakhir, ada ebook.  Gue juga pembaca ebook, memang lebih praktis karena bisa dibaca dari hp dan tablet. Liburan, pergi, atau sekadar lagi nunggu temen di suatu tempat nggak perlu berat-berat bawa buku, keluarin hp atau iPad aja bisa langsung baca.  Tapi, mata gue capek kalau kelamaan baca ebook. Kerjaan gue menuntut supaya gue berhadapan sama laptop 9 jam sehari, masa iya pas gue pulang gue masih ngeliatin layar gadget lagi sampai tengah malam.  Atau ini sebenernya alasan supaya gue nabung beli Kindle Paperwhite, ya. Soalnya kalau pakai Kindle mah mata dijamin aman sejahtera T____T  Ya sebenernya gue emang suka membaca sambil memegang buku sih.  Belum lagi ditambah suka mengoleksi physical copy-nya juga.  Jadi sampai sejauh ini, masih suka beli buku.

Pilihan utama gue adalah buku trade paperback, kualitas kertasnya bagus, dan tentunya karena faktor harga yang lebih murah dari hardcover :D Tapi ada kalanya buku yang gue mau cuma ada hardcover aja; bisa jadi trade paperback-nya habis (sekali lagi, maklum, toko buku impor Indonesia agak terbatas), bisa jadi gue nggak sanggup nunggu kalau order online karena dituntut bersabar minimal tiga minggu sampai buku sampai, atau bisa jadi karena paperback-nya baru akan keluar beberapa bulan kemudian. Nah, kalau gitu gue beli deh hardcover-nya.  Mass-market paperback opsi terakhir kalau memang di toko buku hanya ada dia seorang (lagi, karena nggak sabar kalau harus order online). Ebook baru dilirik kalau bawaan tas lagi banyak banget sampai satu buku berasa bikin tas makin berat. Mungkin jadi beda cerita kalau gue udah punya Kindle. Kalau koko atau dede gue ada yang baca postingan ini, ini #kode untuk kalian =))))

  • Dindie

    Hai Grisselda! Saya juga sukanya B-Format/Trade Paperback, tapi untuk yang suka bawa buku setiap hari di tas rasanya ukurannya agak kurang sip. Namun entah kenapa aku nggak pernah suka baca e-book, kayak nggak ada rasa fisiknya. And I always having hard time paying attention to glaring screen. Kebayang jadi Winston Smith “the big brother is watching” hihihi. Sama seperti yang kamu bilang. Beberapa buku yang rela kubeli dalam versi hardcover adalah Ready Player One-nya Ernest Cline (karena aku bisa baca buku itu berulang-ulang, geekdom) dan graphic novelnya Allison Bechdel & Craig Thompson.

    • http://grisscorner.net/ Grisselda

      Hi, Dindie!
      Haha iya kalau dibawa di tas cukup bikin pundak pegal ya. Biasanya sih gue bawa yang mass market paperback buat di tas. Jadi udah ada rasa aman aja gitu kalo harus nunggu lama udah ada buku yang bisa dibaca.
      YES, Ready Player One was really good! Kebayang kalo dijadiin film pasti visualnya keren banget deh.

      • Dindie

        Aku agak puritan kalau soal book->film, dan Ready Player One ini adalah salah satu buku yang aku nggak mau lihat kalau difilm-in. Hell NO. Karena ultraman , meguma taishi, johnny soko, kaiju, IMHO would never be that good if they’re not well elaborated in film.

        Well the mega battle in Ready Player One actually already happened in one of the MMORPG: EVE. Sampai servernya ngadat karena thousands of spaceships doing the same thing as the Gunters. Read the news here: http://www.tor.com/blogs/2013/01/eve-online-2800-spaceships-clash-costing-over-thousands-of-dollars. ini mirip dengan chapter-chapter terakhir, kalau masih ingat adegan Parzival dkk mau ambil golden key, kan semua Gunters bantuin dia tuh dari serangan Sixers. Dan pernah coba OASIS-nya di web? Cline pernah juga bikin kontes serupa pas promo bukunya lho. But it was like 4 years ago.

  • q_anq

    Berhubung aku punya kindle paperwhite, I vote for ebook. Enteng, font bisa diatur, memory gede jadi bisa masukin berpuluh-puluh buku… Ga nambah beban lemari buku n tas waktu travelling juga ;) Downsidenya ga bisa liat cover berwarnanya yg cantik…

    • http://grisscorner.net/ Grisselda

      Yup, setuju dengan praktis dan enaknya ebook kalau punya ereader yang cukup mumpuni.
      Gue nggak terlalu sering baca ebook karena emang masih mengandalkan tablet dan hp sih, matanya sakit kelamaan lihat layar x_x
      Emang pertanda harus invest ke Kindle Paperwhite kali nih ya :p #peneguhan

      • q_anq

        I suggest get the newest one, Kindle voyage if you haven’t had paperwhite. My friend said it’s worth the higher price…

  • Markerov

    CTRL+D Dulu

    Lagi cari info ttg bedanya paperback, hardback n istilah lainnya nih.

  • tantra wida

    terima kasih kak, jadi ngerti perbedaannya. aku sering belanja di toko buku online indonesia periplus.com, namun kurang pengetahuan soal ini. khususnya paperback dan mass market paperback. duh terbantu banget!^^ sewaktu beli di periplus.com ada buku hardcover yang kertasnya potongannya tidak rapi. saya pikir itu buku rusak, eh ternyata bukan. tapi belum tahu nama jenisnya. tapi dari kesemuanya aku lebih suka ukuran yang kecil, seukuran buku saku karena enak banget bisa dibawa kemana mana.

    • http://deegeedeegee.com Grisselda

      Hi, thank you juga udah baca :)
      Iya ada beberapa buku yang potongan kertasnya gitu kayak buku jaman dulu, biasa disebutnya deckle edges.

  • Hani Nathania

    aku mau nanya dong beli buku buku hardcover dimana yaa? Di periplus gramedia gtu gtu enggak ada, tolong recomendasiin dong! Hehe:)

    • http://deegeedeegee.com Grisselda

      Hai :) Tinggal di mana ya? Kalau di Jakarta dan mau lihat langsung bisa mampir ke Kinokuniya di PS atau GI. Kalau online, di periplus.com ada kok. Tergantung buku apa dulu sih, tapi rata-rata buku fiction ada hardcover version-nya.

  • https://www.manusiatransparan.blogspot.com Racka Galendhi

    :3 Akhirnya dapet penjelasan Trade paperback. Saatnya preorder dulu.
    Makasih kak..

  • ezra

    kalo buku prebound itu gimana yaaa?

  • Gianni Reiza Maulania

    Elus dada theo james *aduh maaf jadi salah fokus wakakakak tapi artikelnya membantu banget, apalagi kalo order di periplus atau books and beyond yang punya banyak versi buku dengan judul yang sama