Griss' Corner

A personal corner made by an avid reader, coffee drinker, and beauty admirer

Nyetir Malam

Posted in Personal • 15 June 2015

the later the better? - grisscorner

Minggu lalu, 4 dari 5 hari kerja gue lalui dengan melemburkan diri di kantor. Maklum, menjelang rilisnya situs baru pasti makin seru.  Bos-bos di kantor nggak ada yang maksa harus gini harus gitu, sih. Tapi sebagai pegawai, gue tahu diri sendiri aja lah. Kalau ada yang belum selesai, dan gue bisa mempercepat itu, ya diselesaiin supaya cepat rampung.  Sekalian gue mau cek ombak ceritanya. Mau tahu kalau pulang lebih malam, butuh berapa lama supaya sampai ke rumah.

Jam pulang gue di minggu lalu cukup bervariasi, ada yang pulang jam 9, jam setengah 8, atau ada juga yang setengah 11 baru pulang. Biasanya sih jam 6 teng gue udah angkat kaki dari kantor.

Kalau pagi, gue butuh waktu sekitar 1 jam 40 menit menempuh 33 km untuk sampai ke kantor. Itu dengan catatan kalau situasi Jakarta lagi normal. Kalau ada kendaraan mogok di tol, ada penutupan jalan, bisa butuh lebih dari 2 jam sampai gue menginjakkan kaki di kantor.  Pulangnya, biasanya butuh waktu 1 jam 20 menit. Kalau “lancar” ya sejam.

Nah, kalau pulang jam 9 ke atas, gue cuma butuh 30 – 35 menit doang buat sampai ke rumah! Bayangkan, saudara-saudari, betapa bahagianya gue saat itu. Kalau tol dalam kota itu berwujud manusia, gue udah banjirin dengan “I love you” sepanjang jalan kayaknya.  Mood langsung enak karena bisa nyetir nancep gas gitu. Asli gue langsung kebayang scene Letty nyetir di Furious 7. #lifegoal

Pagi macet, kerja seharian, lalu dibuat kalem dengan jalanan yang lancar. Late night drive itu salah satu wujud me time yang menyenangkan dan jadi penutup hari yang manis, sih, buat gue.

Lantas apakah pulang malam terus jadi pilihan yang bakal gue pilih seterusnya? Ya nggak juga. Terus maunya apa? Macet lo ngomel, pulang malam lebih enak tapi nggak mau dirutinin juga. Hidup di Jakarta ini nggak sesederhana seperti milih Indomie goreng mau pakai telor atau kornet atau dua-duanya aja sekalian kalo doyan. Kaya gue. Pulang malam, mood memang lebih enak karena jalanan lebih lengang, tapi jam istirahat jelas berkurang. Pulang jam 6 tepat, kadang bisa dibuat kesel kalau macetnya kebangetan, tapi 80% bisa dipastikan jam 9 malam udah bisa istirahat.  Masing-masing pilihan pasti ada plus minus-nya.

“For everything you have missed, you have gained something else, and for everything you gain, you lose something else.” – Ralph Waldo Emerson

Buat gue pribadi, kembali lagi ke pintar-pintar mengatur waktu dan menyusun skala prioritas sebenarnya. Kalau untuk kerjaan, naluri gue jadi makin tajam untuk bedain mana yang bisa gue assign ke tim, mana yang harus gue kerjain sendiri, kapan gue harus spend time untuk bikin work plan, kapan gue harus ajak diskusi bos atau beberapa teman kantor, kapan gue harus periksa kerjaan tim yang gue lead, kapan gue mau sumbang tulisan (tetep), dan kapan gue lagi pingin nyetir malam untuk ngademin hati ala Letty Ortiz :D