Griss' Corner

A personal corner made by an avid reader, coffee drinker, and beauty admirer

“Pada Mau Es Duren, Nggak?”

Posted in Playground • 21 September 2015

Semarang

Itulah satu pertanyaan dari Clau yang sukses buat 1 mobil di Semarang berisi 8 orang langsung berisik. Untung aja Pak Soni, bapak supir kami saat itu nggak langsung mengundurkan diri di tempat.

Percakapan kami bertujuh sengaja gue terjemahkan dalam bahasa Indonesia untuk blog post ini supaya semua bisa ngerti.

Menanggapi tawaran dari Clau, gue sebagai manusia anti duren otomatis menjawab dengan cepat, “Gue nggak suka duren!”

Disusul dengan Gogo, “Gue juga nggak suka!”

Mangun dengan kagetnya bilang, “Ya ampun, akhirnya menemukan orang yang sama-sama nggak suka duren juga!”

Lalu Hanna, Robin, dan Suman menimpali, entah urutannya gimana gue lupa.

“Duren enak banget gitu, kok.”

“Kok bisa nggak suka sih?”

“Gue sih suka banget.”

Hanna terus bilang, “Di depan rumah gue banyak banget tuh yang jual duren.  Mantaaap.”

Gue merespon, satu kata doang tapi agak panjang.  “Eeeewwwww.”  Andai pecinta duren garis keras lihat muka gue pas ngomong itu… Gue bisa dilempar duren beneran.

Posisi sementara: 3 suka vs 3 nggak suka.

Hanna nodong Clau yang belum bersuara lagi, “Clau, lo gimana?”

“Gue sih suka-suka aja.” Sepertinya ini upaya Clau untuk menjaga ketenteraman bersama.

“Nggak bisa. Kalau soal duren, lo antara suka banget, atau benci banget.”

“Ya udah, suka banget.”

Langsung pecah, saudara-saudari.

“Tuhhh kaan. Duren tuh enak!”

“Nikmat banget duren, tuh!”

“Kalau mau, di situ ada es duren enak.”

“Tolong lah…”

“Enak apanya? Baunya bikin mabok gitu!”

“Awas lo ya kalo sampe pada makan es duren di mobil!”

“Udah lah,  kita langsung ke tempat mochi aja.”

Kadang memang perlu ada berisik nggak penting untuk menguji kesabaran sang supir.

Pada akhirnya, nggak ada kekerasan yang muncul karena duren. Ngeledek sih iya.  Ada yang makan mochi rasa duren dan isi mulutnya ditunjukkin ke gue sama Gogo. Respon yang keluar ya nggak jauh beda sama sebelumnya. Hahaha.  Tapi ya sama-sama tahu kalau itu bercanda, dan udah sama-sama maklum juga. Mirip seperti memaklumi ada orang yang nggak bisa makan pedas dan ada orang yang kalau makan nggak pakai sambal langsung merana (ehem). Mirip seperti memaklumi ada orang yang lebih nyaman berambut pendek, ada juga yang suka rambutnya panjang.

Ada yang suka iPhone, ada yang suka Android phone. Si anu pilih Canon, si inu pilih Nikon. Dia bilang apel paling enak, dia yang lain bilang pepaya paling enak. Karena memang selera dan pilihan itu nggak bisa dipaksa.  Selain bercanda (harap dicatat ini berlaku hanya untuk temen, pacar/pasangan, atau keluarga sendiri, ya), saat ketemu orang lain yang punya selera dan pilihan yang beda, yang bisa gue lakuin ya mendengar dan memaklumi. Karena walau bagaimanapun juga, saat seseorang udah mantap dan memutuskan pilihannya, kemungkinan besar orang lain udah nggak bisa apa-apa.

Memang lihat lagi sih apa konteksnya. Tapi selama apa yang gue pilih nggak ngerugiin orang lain, ya why not. Selama pilihan orang lain nggak ngerugiin gue, ya why not juga? Balik lagi ke duren. Emang gue dosa kalau nggak suka duren?  Nggak kan. Emang temen-temen gue jadi dosa karena suka duren?  Nggak juga kan.

Kok ending blog post-nya gini amat, yak?