Griss' Corner

A personal corner made by an avid reader, coffee drinker, and beauty admirer

I’ve Finally Read The Goldfinch

Posted in Books • 22 November 2014

The Goldfinch - grisscorner

Membaca itu salah satu kegiatan refreshing buat gue.  Jadi biasanya gue lebih suka buku yang plot-driven, fast paced, banyak action, menghibur, ada karakter lucu dan character development di dalamnya. Kalau love story pun gue lebih suka yang yang UUH, ujung-ujungnya happy.  Seperti nonton film lah, gue lebih suka action, horror, comedy, atau romcom.  Kalau bacaannya kurang mengikuti preferensi itu, takutnya malah bikin capek hati.  Cukup lah kerja Senin sampai Jumat dan terkadang Sabtu juga harus kerja.  Jangan sampe gara-gara baca buku malah sutris.  Karena itulah literarty fiction termasuk genre yang gue hindari, karena jujur aja: 1. Agak terintimidasi dengan ceritanya, 2. Kalau terlalu “berat”, otak gue bisa retak.

Bagi gue yang pengalaman baca literary fiction masih hitungan jari, milih The Goldfinch emang agak sableng karena tebalnya nggak santai. Tapi kelar juga dalam waktu satu minggu *pat myself on back.* Gue tahu keberadaan buku ini karena nonton video review di YouTube, dan nggak lama sesudahnya nggak sengaja nemu artikel tentang buku ini di Vanity Fair dan Huffington Post.  Cukup menarik lihat dua media yang satunya mencerca dan satunya memuji.  Tapi karena merekalah gue jadi semakin penasaran untuk tahu apa sih yang sebenernya diributin tentang buku yang jadi Pulitzer Winner 2014 ini.

The Goldfinch diawali dengan Theo Decker (13 tahun) yang pergi bersama ibunya. He got into trouble dan ibunya dipanggil ke sekolah. Seperti kita waktu sekolah dulu dipanggil guru karena terlalu heboh ngelemparin teman dengan telor dan tepung pas yang bersangkutan ulang tahun sampai bikin kotor lapangan basket (eh?). To make it real short: the combination of bad weather and his mom’s love for art  membuat mereka berdua masuk ke Metropolitan Museum of Art. Tapi di situ justru awal dari semuanya. Ada kecelakaan yang menewaskan ibunya.  Theo berhasil selamat dan keluar dari museum itu dengan membawa satu lukisan, The Goldfinch.

Tiga chapter pertama buku ini sukses bikin sedih karena kerasa banget Theo yang bener-bener bingung kehilangan arah saat nggak ada ibunya.  Kebayang kan, kalau punya hubungan yang dekat dengan orang tua, apalagi kalau selama ini hidup cuma berdua doang, lalu tiba-tiba orang yang jadi “guide” dalam hidup ini nggak ada. Man, that sucks. It was heart-breaking to read about a teenage boy who’s confused and didn’t know what to do with his life.  Social worker datang, tanya di mana ayahnya, ada keluarga lain atau nggak, dsb.  Untuk anak yang usianya masih bocah, kasihan bok bacanya.

Di  buku ini gue bisa lihat perjalanan Theo sampai dia dewasa.  Apa aja keputusan yang dia ambil, dengan siapa dia bergaul, apa yang dia lakukan dalam hidupnya, gimana cara dia mengatasi kehilangan yang dia rasa setelah ibunya meninggal. Ada beberapa poin yang mau gue share dari buku ini:

  • Character rich.  Semua karakter yang ada di buku ini ditunjukkan dengan kekurangannya masing-masing, yang sangat manusiawi dan membuat gue semakin appreciate buku ini.
  • Art.  Dari judul bukunya aja udah jelas ya kalau pasti ada elemen seni yang kental di buku ini.  Ada deskripsi dan detail dari karya-karya seni yang disebutkan di buku ini, dan saat baca buku ini lo juga bakal ngeh kalo Donna Tartt did her research really well.
  • You always have a choice.  Gue suka mikir dan tanya ke diri sendiri, apa yang bisa gue ambil dari buku yang habis gue baca. Iye ah, ini fiksi, bukan buku ilmiah, tapi gue rasa tiap orang bisa belajar dari mana aja.  Dari anak kecil belajar jalan walau kaki masih belum jejeg (?) juga kita bisa lihat semangatnya. The Goldfinch ngingetin gue bahwa setiap orang selalu punya pilihan, no matter how bad the situation is. Apa yang kita pilih hari ini, ngaruh abis buat masa depan.  Apa yang terlihat sebagai pelarian yang kasih “kenyamanan” punya harga yang harus dibayar nantinya. Kadang emang susah untuk keluar dari zona nyaman, but I think it’s a learning process yang bisa kita jalani.
  • It’s not intimidating as it seems.  Donna Tartt menulis dengan simple.  Mungkin ini yang jadi salah satu bumbu banyak kritik pedas untuk buku ini.  Tapi bagi gue yang merasa baca literary fiction itu nggak gampang jadi terbantu dengan gaya bahasa yang dipilih Donna Tartt untuk buku ini.  So if you want to read it, go for it.
  • Detail oriented. Ada beberapa chapter yang menurut gue detail-nya kebangetan sehingga cukup punya andil dengan jumlah halaman buku ini.  Kalau nggak ditulis sedetail itu mungkin bisa ngurangin jumlah halaman. Karena saking detail begitu, gue keluarin jurus baca skimming untuk beberapa dialog dan deskripsi yang panjangnya nggak ketulungan.
  • Commitment.  It’s so dense and that being said, it requires commitment.  Saran gue, buku ini nggak boleh dimadu.  Harus monogami dan jangan sembari baca buku lain dulu.  Fokus bisa ke mana-mana kalau bacanya bolak-balik dari buku ini ke buku lainnya.  Untungnya di kantor tempat gue kerja, kalau ada kerjaan di akhir pekan ada jatah cuti sehari sebagai penggantinya.  Gue ambil sehari dan gue pakai buat baca buku ini dong supaya cepet beres. Abisan kalau pulang kerja sudah lelahnyetir dari ujung Jakarta ke ujung Jakarta lainnya (kan, jadi curhat gue).

Kalau lo seperti gue, yang jarang baca literary fiction, lebih baik sebelum baca buku tipe seperti itu reset mindset dulu supaya bisa mengapresiasi bukunya tanpa membanding-bandingkannya dengan buku-buku hiburan yang biasa dibaca.  Ibaratnya sama aja kayak gue berusaha bandingin eyeshadow Tom Ford dan Lorac.  Sama-sama bagus, tapi kalau mau dicompare jadinya kurang fair karena target market-nya nggak sama.

The Goldfinch bisa dibeli di Books & Beyond, Periplus, atau Kinokuniya.

 

 

  • Noni Indah

    Terima kasih reviewnya, ka!